Ketika Cara Mendidik Anak Berbeda dengan Mertua: Siapa yang Benar?

Pernah tidak, Ibu lagi santai minum teh di ruang tamu, lalu melihat pemandangan yang bikin mengelus dada?

Misalnya, saat mertua diam-diam memberi si kecil camilan bernatsin/micin, atau membiarkannya keasyikan main HP. Padahal, Ibu baru saja selesai membaca panduan kesehatan terbaru tentang pola makan dan batasan main gawai untuk anak. Di momen seperti itu, ruang tamu rasanya langsung berubah jadi “medan perang” dingin antara Ibu dan mertua.

Sebenarnya, masalah ini bukan sekadar soal aturan makan atau durasi main HP saja. Kalau kita lihat lebih dalam, ini adalah benturan antara dua cara pandang yang berbeda: cara pengasuhan zaman sekarang yang berpatokan pada ilmu medis modern, melawan cara pengasuhan zaman dulu yang mengandalkan pengalaman hidup.

Di sinilah sering muncul konflik antara orang tua dan mertua dalam hal mengasuh anak.

Sebenarnya, masalahnya bukan hanya tentang makanan, HP, atau aturan tidur. Ada sesuatu yang lebih dalam: perbedaan cara pandang antara generasi kita dengan generasi orang tua kita.

Coba kita bayangkan dari sudut pandang mertua sejenak. Generasi orang tua atau mertua kita dulunya tumbuh di zaman yang serba sulit. Fokus utama mereka saat itu adalah “yang penting anak bisa bertahan hidup”: anak sehat secara fisik, penurut, dan memegang teguh tradisi. Bagi mereka, anak yang sukses adalah anak yang penurut dan kuat menghadapi kerasnya hidup.

Jadi, saat mertua bilang, “Dulu ibu besarkan anak ibu begitu juga terbukti sukses dan jadi orang kok!”, itu bukan sekadar alasan membela diri. Itu adalah ungkapan rasa bangga mereka karena merasa berhasil mendidik suami atau istri kita sampai seperti sekarang.

Sebaliknya, orang tua zaman sekarang (generasi milenial dan Gen Z) membesarkan anak dengan cara yang beda. Karena sekarang informasi psikologi dan parenting mudah diakses, fokus kita bergeser ke kesehatan mental dan emosi anak. Kita ingin anak tidak cuma sekadar “nurut”, tapi juga punya emosi yang sehat, dekat secara batin dengan orang tua, dan berani mengungkapkan perasaannya.

Nah, perbedaan inilah yang sering bikin gesekan. Bagi mertua, ketika kita menolak saran mereka, mereka merasa tidak dihargai. Menolak cara pengasuhan lama membuat mereka merasa seolah-olah cara mereka mendidik anak di masa lalu itu dianggap salah atau gagal. Itulah kenapa masalah ini sering kali sulit cari jalan tengahnya, karena ada perasaan dan rasa gengsi yang ikut tersenggol.

Generasi orang tua sekarang mendapatkan informasi yang jauh lebih banyak.

Kita bisa membaca tentang perkembangan otak anak, psikologi, kesehatan mental, pola komunikasi, bahkan berbagai penelitian tentang pengasuhan.

Kita tidak hanya ingin anak menurut.

Kita juga ingin anak bisa mengungkapkan perasaan, percaya diri, merasa aman, dan mempunyai hubungan yang baik dengan orang tuanya.

Karena itu, cara kita mendidik anak bisa terlihat berbeda dari cara orang tua kita dulu.

Misalnya, dulu anak menangis mungkin langsung dimarahi:

“Sudah, jangan menangis!”

Sekarang kita mungkin mencoba mencari tahu:

“Kamu sedih karena apa?”

Dulu anak membantah dianggap tidak sopan.

Sekarang kita mencoba mengajarkan anak bagaimana menyampaikan pendapat dengan cara yang baik.

Jadi sebenarnya, bukan berarti generasi dulu tidak sayang anak dan generasi sekarang paling benar.

Mereka hidup dalam keadaan yang berbeda dan mempunyai informasi yang berbeda.

Karena masing-masing merasa mempunyai alasan.

Mertua merasa:

“Saya sudah punya pengalaman membesarkan anak.”

Sementara kita merasa:

“Ini anak saya. Saya yang bertanggung jawab atas cara dia dibesarkan.”

Akhirnya hal kecil seperti makanan, HP, jam tidur, atau cara menegur anak bisa berubah menjadi masalah besar.

Yang diperdebatkan sebenarnya bukan lagi soal makanan atau HP.

Yang terasa dipertaruhkan adalah:

“Siapa yang berhak menentukan cara anak ini dibesarkan?”

Inilah yang membuat masalah dengan mertua kadang terasa sangat sensitif.

Anak Jangan Sampai Bingung karena Aturannya Berbeda

Ada satu hal yang juga perlu diperhatikan: anak membutuhkan aturan yang cukup konsisten.

Misalnya di rumah tidak boleh bermain HP sebelum tidur.

Tetapi ketika bersama nenek:

“Tidak apa-apa, sini Nenek kasih HP.”

Anak tentu akan cepat belajar bahwa aturan bisa berbeda tergantung siapa yang menjaganya.

Bahkan anak bisa mulai berpikir:

“Kalau Mama bilang tidak boleh, saya tinggal minta ke Nenek.”

Kalau ini terus terjadi, orang tua bisa kesulitan mempertahankan aturan yang sudah dibuat.

Bukan berarti kakek-nenek tidak boleh memanjakan cucu.

Justru hubungan dengan kakek-nenek bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi anak.

Tetapi sebaiknya ada batas-batas penting yang tetap dihormati.

Bedakan Mana yang Prinsip dan Mana yang Bisa Ditoleransi

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Tidak semua perbedaan dengan mertua harus diperjuangkan.

Coba bedakan:

Mana yang benar-benar penting dan menyangkut keselamatan atau kesehatan anak?

Misalnya:

  • memberikan obat tanpa sepengetahuan orang tua,
  • membawa anak ke tempat berbahaya,
  • memberikan makanan yang menyebabkan alergi,
  • menggunakan hukuman fisik,
  • membiarkan anak melakukan sesuatu yang berisiko.

Untuk hal-hal seperti ini, orang tua memang perlu tegas.

Tetapi ada juga hal-hal kecil yang sebenarnya masih bisa ditoleransi.

Misalnya:

Nenek membelikan makanan kesukaan cucu sesekali.

Kakek membiarkan cucu tidur sedikit lebih malam saat liburan.

Nenek mengajak cucu bermain dengan cara yang sedikit berbeda.

Tidak semua hal harus menjadi perdebatan.

Salah satu cara yang bisa dicoba adalah mulai dengan menghargai niat baik mereka.

Misalnya:

“Ibu, saya tahu Ibu sayang sekali sama cucu. Saya juga senang kalau anak dekat dengan Ibu.”

Kemudian baru sampaikan batasannya:

“Cuma untuk makanan ini saya sedang membatasi karena ada alasan kesehatan. Jadi kalau mau memberikan makanan, mungkin kita bisa pilih yang ini saja.”

Lalu tutup dengan penghargaan:

“Terima kasih ya, Bu, sudah membantu menjaga dia.”

Dengan cara seperti ini, kita tidak sedang mengatakan:

“Cara Ibu salah.”

Tetapi kita sedang mengatakan:

“Saya menghargai Ibu, tetapi untuk anak saya, ada beberapa aturan yang perlu kita sepakati bersama.”

Kadang-kadang memang lucu.

Kalau kita yang menjelaskan, mertua bisa menjawab:

“Ah, zaman kamu kecil juga begitu.”

Tetapi kalau dokter yang mengatakan:

“Sebaiknya anak tidak terlalu banyak mengonsumsi makanan seperti ini.”

Tiba-tiba lebih mudah diterima.

Kalau memang ada masalah yang sulit dibicarakan, kita bisa menggunakan sumber yang lebih netral.

Misalnya:

“Kemarin dokter anak menyarankan seperti ini, Bu.”

Dengan begitu, pembicaraan tidak terasa seperti:

menantu melawan mertua.

Tetapi menjadi:

kita bersama-sama mengikuti saran dokter untuk kebaikan anak.

Mungkin cara mengasuhnya berbeda.

Mungkin cara berpikirnya berbeda.

Tetapi biasanya ada satu hal yang sama:

semuanya sayang kepada anak.

Mertua ingin cucunya bahagia.

Orang tua ingin anaknya sehat dan tumbuh dengan baik.

Jadi, jangan sampai perbedaan cara mengasuh membuat hubungan keluarga rusak.

Orang tua tetap menjadi pihak yang paling bertanggung jawab dalam menentukan pola asuh anak.

Sementara kakek dan nenek bisa menjadi tempat anak mendapatkan kasih sayang, perhatian, cerita, dan pengalaman yang berbeda.

Batasan tetap perlu ada, tetapi hubungan baik juga perlu dijaga.

Menghormati mertua bukan berarti kita harus mengikuti semua keinginannya.

Dan menetapkan batas untuk anak bukan berarti kita tidak menghormati mertua.

Yang penting adalah bagaimana menyampaikannya.

Karena pada akhirnya, kita semua berada di pihak yang sama: ingin anak tumbuh sehat, bahagia, dan menjadi pribadi yang baik.

Tags :
Share :

Related Posts

Co-Parenting: Dari Mantan Pasangan Jadi Rekan Kerja (Biar Mental Anak Tetap Terjaga)

Jujur saja, berurusan dengan mantan pasangan sering kali bukan hal yang ada di daftar keinginan siapa pun. Ada luka masa lalu, ego yang masih tersentil, atau sekadar rasa canggung yang luar biasa saat

read more

Kegiatan Kerja Bersama Pasangan

Di bawah redup cahaya lampu yang menciptakan bayangan hangat di sudut ruangan, ketenangan malam seolah sengaja melambat untuk memberi ruang bagi dua jiwa yang siap menyatu. Kehadiran seorang pria mask

read more

Ketika Dua Ruang Hampa Bertemu: Sains di Balik Godaan "Jalan Pintas" Emosional

Apa Itu Emotional Void? Coba bayangkan gambaran keluarga idaman masa kini: sosok "Suami/Ayah" dan "Istri/Ibu." Di mata orang luar, hidup mereka kelihatan sempurna banget dan serba tertata. Tapi

read more

Panduan Kebutuhan Harian untuk Mendukung Testosteron Alami Pria Usia 52 Tahun

*Catatan penting: Panduan Kebutuhan Harian untuk Mendukung Testosteron Alami Pria Usia 52 Tahun. Panduan ini bersifat umum dan tidak menggantikan pemeriksaan atau rekomendasi dokter. Kebutuhan s

read more

Saking Sayangnya Malah Jadi "Helikopter Parenting" ?

Halo, sesama orang tua dan para pengamat dinamika manusia. Pernahkah kita, di tengah jeda kesibukan sehari-hari, tiba-tiba merasa memiliki dorongan impulsif untuk mengecek posisi anak? Memantau jadwal

read more